DEMENSI EPISTEMOLOGI KEILMUAN

PENGERTIAN EPISTEMOLOGY

Epistemology deri visinya dari Bahasa yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan. Secara etimologis, epistemology merupakan gabungan kata dalam bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Epitem artinya pengetahuan sedangkan logos berarti pengetahuan sistematika atau ilmu. Epistemology adalah cabang ilmuf ilsafat yang menjelaskan masalah-masalah filosofis yang mengitari teori ilmu pengetahuan. Epistemology juga disebut teori pengetahuan ,yakni cabang filsafat  yang membicarakan tentang caramem peroleh pengetahuan, hakikat pengetahuan dan sumber pengetahuan. Dengan kata lain, epistemology adalah suatu cabang filsafat yang menyoroti atau membahas tentang tata-cara, teknik, atau prosedur mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Dengan demikian, epistemology dapat diartikan sebagai suatu pemikiran mendasar dan sistematik mengenai pengetahuan. Iamerupakan cabang filsafat  yang membahas tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asalmula pengetahuan, metode atau caramem peroleh pengetahuan, validitas pengetahuan dan kebenaran pengetahuan.

Epistemologi sering dikaitkan dengan logika, yaitu ilmu tentang pikiran. Logika yang dimaksud di sinia dalah logika mayor dan logika minor. Logika mayor mempelajari tentang pengetahuan, kebenaran dan kepastian yang sama dengan lingkup epitemologi. Sedangkan logika minor mempelajari struktur berpikir dan dalil-dalilnya seperti silogisme.

Pemahaman para ahli tentang epistemology sangat beragam, baik dari segi sudut pandang maupun cara mengungkapannya. Kadang redaksi penyampaian yang berbeda juga dapat mempengaruhi substansi yang berbeda pula. Menurut Nurani Soyomukti (L.1979) epistemology adalah cabang filsafat yang memberikan focus perhatian pada sifat dan ruang lingkup ilmu pengetahuan, yang terdiri dari pertanyaan apakah pengetahuan itu? Bagaimanakah pengetahuan itu diperoleh? Dan bagaimana kita mengetahui apa yang kita ketahui? 4 Sedangkan menurut Imam Khanafie Al-Jauharie (L.1975) menyatakan, bahwa epistemology yaitu sebuah teori untuk menjawab dari mana asal atau sumber sesuatu itu, dan bagaimana cara mendapatkan atau memperoleh sesuatu yang dimaksud. Selain itu, epistemology juga untuk menjawab sifat, karakteristik dan ciri-ciri tertentu dari segala sesuatu yang sedang diselediki

Epistemologi atau teori pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode. Epistemology bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu, ragam ilmu yang bersifat nisbidan niscaya, dan relasi eksak antara ‘alim( subjek) danma’lum (objek). Dengan kata lain, epistemology adalah bagianfilsafat yang menelitiasalusul, asumsidasar, sifat-sifat, dan  bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menanyakan apa yang dapat kita ketahui sebelum menjelaskannya. Pertanyakan dulu secara kritis, baru diyakini. Ragukan dulu bahwa sesuatu itu ada, kalua terbuk tiada, baru dijelaskan. Berfikir dulu, baru diyakini atau tidak. Ragu kan dulu, baru yakini tau tidak.

Pertanyaan utama epistemology jenis ini adalah, apa yang benar-benar kita ketahui dan bagaimana cara kita mengetahuinya? Epistemology ini tidak peduli apakah batu didepan mata kita adalah penampakan atau bukan. Yang ia urus adalah bahwa ada batu didepan matakita dan kita teliti secara saintifik. Kemudian menetukan model filsafat. Dengan pengertian ini epistemology tentu saja menentukan karakter pengetahuan. Bahkan menentukan “kebenaran” macam yang dianggap patut diterima atau yang patut ditolak

SUMBER DAN DASAR EPISTIMILOHY

Sumber epistimilogy

Pengetahuan adalah bagian yang pentig dalam kehidupan manusia.Setiap manusia pasti memiliki pengetahuan masing-masing. Namun yang menjadi permasalahan di sini adalah bagaimana sebenarnya pengetahuan tersebut berasal sehingga menjadi sesuatu yang diketahui oleh manusia. Dalam hal ini ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan secara umum antara lain:

Nalar (rasio)

Secara etimologis, rasio bahasa Latin ratio yang berarti akal. Paham yang menganut sumber pengetahuan berdasarkan rasio yakni rasionalisme sangat menekankan akal sebagai sumber utama pengetahuan manusia dan pemegang otoritas terakhir dalam penentuan kebenaran pengetahuan manusia1 .Aliran ini biasa dinisbatkan pada beberapa tokoh pemikir Barat, diantaranya Rene Descartes (1596-1650), Spionoza (1632-1672), Leibniz (1646-1716), dan Christian Wolf (1679-1754). Meskipun sebenarnya akar-akar pemikirannya sudah ditemukan dalam pemikiran para filsuf klasik, yaitu Plato (427 SM-347 SM) dan Aristoteles (384 SM-322 SM).2

Bagi kelompok rasionalisme, sumber pengetahuan manusia didasarkan pada idea yang dibawa oleh manusia sejak ia lahir. Ide bawaan tersebut menurut Descartes terbagi tiga kategori, yaitu:

a.Pemikiran, bahwa secara fitrah, manusia membawa ide bawaan yang sadar bahwa dirinya adalah makhluk yang berpikir. Dari sinilah, keluar statement Descartes yang sangat terkenal, yaitu cagito ergo sum yang artinya aku berpikir maka aku ada.

b. Allah atau deus, manusia secara fitrah, memiliki ide tentang suatu wujud yang sempurna, dan wujud yang sempurna itu adalah Tuhan.

c. Extensia atau keluasan, yaitu ide bawaan manusia, materi yang memiliki keluasan dalam ruang.

Ketiga ide bawaan tersebut dijadikan aksioma pengetahuan dalam filsafat rasionalisme yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Dalam metode pencapaian pengetahuan, Descartes(1596-1650) memperkenalkan metode keraguan, yaitu meragukan segala sesuatu, termasuk segala hal yang telah dianggap pasti dalam kerangka pengetahuan manusia. Proses keraguan inilah yang kemudian mengantarkan manusia sampai pada pengetahuan yang valid dan diterima kebenarannya secara pasti. 3

Pengalaman Indera (empiris)

Empiris berasal dari kata Yunaniempeirikos artinya pengalaman. Aliran yang menganut kepercayaan bahwa sumber pengetahuan adalah empiris disebut empirisme.Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya.Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman inderawi.Dalam paradigma empirisme ini, indera merupakan satu-satunya instrumen yang paling absah untuk menghubungkan manusia dengan dunianya, bukan berarti bahwa rasio tidak memiliki arti penting.Hanya saja, nilai rasio itu tetap diletakkan dalam kerangka empirisme. Artinya keberadaan akal di sini hanyalah mengikuti eksperimentasi karena ia tidak memiliki apapun kecuali dengan perantaraan indera, kenyataan tidak dapat dipersepsi.4

Salah satu tokoh emppirisme David Hume (1711-1776) sebagaimana dikutip Amsal Bakhtiar (L.1960) dalam bukunya yang berjudul “Filsafat Ilmu”, mengatakan bahwa manusia tidak membawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya.Sumber pengetahuan adalah pengamatan.Pengamatan memberikan dua hal, yaitu kesan-kesan dan pengertian-pengertian atau ideide.Yang dimaksud kesan-kesan adalah pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman, seperti merasakan kulit yang dicubit.Sedangkan yang dimaksud dengan ide adalah gambaran tentang pengamatan yang samar-samar yang dihasilkan dengan merenungkan kembali atau merefleksikan dalam kesan-kesan yang diterima dari pengalaman tersebut.5

Dalam hal ini dapat dipahami bahwa akal hanya mengelola konsep inderawi, hal itu dilakukannya dengan menyusun konsep tersebut atau membagi-baginya.Jadi dalam empirisme, sumber utama untuk memperoleh pengetahuan adalah data empiris yang diperoleh dari pancaindera.Akal tidak berfungsi banyak, jika ada itu hanya sebatas ide yang kabur.6

Akan tetapi dalam proses terjadinya pengetahuan, aliran ini mempunyai banyak kelemahan, antara lain:

a. Pencerapan indera terbatas misalnya benda yang jauh kelihatan kecil

b. Indera yang menipu, misalnya pada yang sakit malaria gula rasanya pahit dan udara akan terasa dingin.

c Objek yang menipu, misalnya fatamorgana dan ilusi. Jadi, objek itu sebenarnya tidak sebagaimana ia ditangkap oleh indera, ia membohongi indera. 7

Authority (Otoritas)

Otoritas adalah kekuasaan yang sah yang dimiliki oleh seseorang dan diakui oleh kelompoknya.Otoritas menjadi salah satu sumber pengetahuan karena pengetahuan suatu kelompok tertentu tergantung pada pengetahuan seseorang yang memiliki kewibawaan dan otoritas. Jadi ilmu pengetahuan yang terjadi karena adanya otoritas adalah ilmu yang terjadi melalui wibawa seseorang hingga orang lain mempercayainya sebagai sebuah pengetahuan. 8

Intuisi

Intuisi adalah kemampuan yang ada pada diri manusia yang berupa proses kejiwaan. Memang sumber pengetahuan jenis ini diakui adanya, akan tetapi memiliki kelemahan yakni sumber pengetahuan jenis ini akan sulit dibuktikan secara empiris dan secara rasional.

Wahyu

Wahyu adalah berita yang disampaikan oleh Tuhan kepada Nabi-Nya untuk kepentingan umatnya.Sesungguhnya antara wahyu dan keyakinan hampir tidak dapat dibedakan karena keduanya menggunakan kepercayaan.Perbedaannya adalah bahwa keyakinan terhadap wahyu yang secara dogmatis diikutinya adalah peraturan yang terdapat dalam agama.Sedangkan keyakinan lebih bersifat kemampuan jiwa manusia yang merupakan pengamatan dari keppercayaan.

Seseorang yang mempunyai pengetahuan melalui wahyu, secara dogmatis akan melaksanakan dengan baik. Wahyu dapat dikatakan sebagai salah satu sumber pengetahuan, karena manusia mengenal sesuatu melalui kepercayaannya.

Dasar epistemology

Epistemologi atau teori ilmu pengetahuan merupakan kajian yang berguna, karena ia membahas aspek kehidupan manusia yang amat fundamental yaitu ilmu pengetahuan. Epistemologi mengkaji secara filosofis tentang asal, struktur, metode, validitas dan tujuan ilmu pengetahuan.Ia menjelaskan apa yang disebut kebenaran serta kriterianya dan menjelaskan cara yang dapat membantu diperolehnya kebenaran itu.Epistemologi mempunyai tempat yang cukup sentral dalam bangunan filsafat ilmu, sehingga epistemologi telah menarik perhatian para pemikir baik di Barat maupun di bangunan pemikiran Islam modern.

Pertama, Di dunia Barat, epistemologi menjadi suatu disiplin ilmu baru di Eropa yang dipelopori oleh Descartes (1596-1650), dan dikembangkan oleh filosof Leibniz (1646–1716), kemudian disempurnakan oleh John Locke di Inggris. Epistemologi berkembang sejak gagasan renaissance dibangkitkan. Renaissance adalah produk dari gerak individualisme yang kuat yang menggoncang tatanan yang sudah mapan pada abad k-14 dan ke-15.Pada abad ke-18 dimulailah suatu zaman baru, yang memang telah berakar pada Renaissance, serta yang mewujudkan potensi diri manusia dalam mengindera, berpikir dan melakukan berbagai eksperimen dalam mengolah alam, sehingga lahir dua aliran rasionalisme dan empirisme.Abad ke-18 disebut abad Pencerahan (Aufklarung). Sementara itu, abad ke-19, dimulai Gerakan Neo-Positivisme, yang dimotori oleh Lingkaran Wina (Wiener Kreis, Vienna Circle) adalah suatu kelompok yang terdiri dari sarjana-sarjana ilmu pasti dan ilmu alam di Wina. Aliran ini mendapat pengaruh dari tiga arah: (1)dari empirisme dan positivisme, terutama Hume, Mill, dan Ernst Mach; (2)dari metodologi ilmu empiris yang dikembangkan oleh para ilmuwan semenjak abad ke-19, seperti Einstein; (3) perkembangan logika simbolik dan analisa logis yang dikembangkan terutama oleh Frege, Whitehead, Russell serta Wittgeinstein.10

Salah satu maksud gerakan ini ialah ingin memperbaharui positivisme klasik ciptaan Comte.Pada awal abad ke-20 ini berkembang juga filsafat fenomenologi, dan penggagas dasar aliran filsafat fenomenologi ialah Edmund Husserl (1859-1938). Husserl adalah seorang filsuf Jerman yang pernah mengajar filsafat di Halle, Gottingen, dan Freiburg.Bersamaan dengan itu pula berkembang filsafat eksistensialisme, yaitu filsafat yang menolak pemutlakan akal budi dan menolak pemikiran-pemikiran abstrak murni.Eksistensialisme berupaya untuk memahami manusia yang berada di dalam dunia, yakni manusia yang berada pada situasi yang khusus dan unik.Blackham mengatakan bahwa eksistensialisme adalah suatu filsafat keberadaan, suatu filsafat pembenaran dan penerimaan dan suatu penolakan terhadap usaha rasionalisasi pemikiran yang abstrak tentang kebenaran.

Selanjutnya, Mazhab Frankfurt dan Marxisme, nama “Mazhab Frankfurt” (Die Frankfurter Schule) digunakan untuk menunjukkan sekelompok sarjana yang bekerja pada Institut fur Sozialforschung (Lembaga untuk Penelitian Sosial) di Frankfurt am Main11. Lembaga ini didirikan pada tahun 1923 oleh Felix Well, dimaksudkan untuk membentuk sebuah pusat penelitian sosial yang independen.12

Kedua, Permasalahan epistemologi dalam filsafat Islam tidak dibahas secara tersendiri, akan tetapi, begitu banyak persoalan epistemologi dikaji secara meluas dalam pokok-pokok pembahasan filsafat Islam, misalnya dalam pokok kajian tentang jiwa. Begitu pula hal-hal yang berkaitan dengan epistemologi banyak dikaji dalam pembahasan tentang akal, objek akal, akal teoritis dan praktis, wujud pikiran, dan tolok ukur kebenaran dan kekeliruan suatu proposisi.Dalam perkembangan filsafat Islam, epistemologi menjadi suatu bidang disiplin baru ilmu yang mengkaji sejauh mana pengetahuan dan makrifat manusia sesuai dengan hakikat, objek luar, dan realitas eksternal.Dinamika epistemologi dalam pemikiran keagamaan di dunia Islam telah berlangsung  sejak  periode klasik (650-1250), periode pertengahan (1250-1800) dan periode modern (1800-sekarang).13

Periode  perkembangan pemikiran modern sebagai periode ketiga dipandang sebagai periode kebangkitan kembali umat Islam setelah tenggelam selama abad pertengahan. Namun demikian, kehadiran modernisme telah menyebabkan respons yang beragam dan memunculkan ketegangan di kalangan umat islam. Dengan adanya modernisasi di segala bidang di beberapa Negara, seperti Mesir memasuki masa liberal (liberal age).Paham liberalisme tumbuh mekar yang mengakibatkan munculnya sejumlah gagasan tentang pemisahan antara agama, kebudayaan dan politik.14

Dengan berkembangnya pemahaman liberatif di Mesir, lahirlah apa yang disebut an-nahdah (renaissance), yang kemudian melahirkan beberapa trend pemikiran

1. Trend pemikiran ke arah tradisionalisme ini disebut The Islamic Trend (kecenderungan pada Islam). Pandangan ini dimulai sejak pengajaran-pengajaran Ibn Hanbal yang mengalami keberhasilan puncak melalui Muhammad ibn Abd al-Wahhâb (1703-1992).

2. Kelompok The Syntetic and The Rational scientific and Liberal Trend (sintesa secara rasional ilmiah dan pemikiran bebas), kelompok yang berusaha memadukan antara Islam dan kebudayaan Barat. Kelompok ini diwakili oleh Qâsim Amîn (1865-1908), dan ‘Ali ‘Abd. ar-Râziq (1888-1966), Tâha Husein (1883-1973), Lutfî as-Sayyid (1872-1972), Zakî Najîb Mahmûd (1905-1993), Salamah Mûsa, Farag Fawdah, Fu’ad Zakariya, Hassan Hanafî (1935), Mohammed Arkoun, Muhammad Syahrur, Seyyed Hosein Nasr dan Nasr Hâmid Abû Zaid.

Epistemologi yang telah tumbuh sejak ratusan tahun silam, kini berada pada posisi perkembangan yang semakin menggairahkan.Kehadiran perguruan tinggi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia sesuai dengan fungsi utamanya untuk mengembangkan ilmu, telah memberikan kontribusi signifikan dalam memelihara semangat perkembangan ilmu.Berbagai temuan dalam bidang sains, teknologi dan seni telah ikut memperkaya khazanah intelektual, sekaligus memberikan kontribusi penting bagi kehidupan manusia.

Hampir semua disiplin ilmu yang saat ini berkembang baik di dunia pendidikan maupun di lingkungan para penggunanya, pada dasarnya bermula dari buah pemikiran para penggagas atau penemunya. Mereka telah memberikan sumbangan besar dalam proses transformasi budaya masyarakat dunia. Informasi para penggagas dan penemu teori yang telah memperkaya ilmu pengetahuan itu, kini tersebar dalam berbagai literatur khususnya berkaitan dengan sejarah perkembangan sesuatu ilmu.Perkembangan ilmu pengetahuan, baik di lingkungan lembaga pendidikan maupun dalam lingkup wilayah pemanfaatannya di dunia praktis, selalu membuka peluang untuk ditelaah, dikritik, atau bahkan dibantah sesuai dengan perbedaan perspektif yang digunakannya. Namun demikian, secara filosofis, pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan pada gilirannya akan berujung pada tema-tema kemanusiaan, kealamsemestaan, dan ketuhanan. Ilmu pengetahuan kemudian muncul dan berkembang sebagai jawaban atas berbagai pertanyaan di seputar ketiga tema tersebut.

Dalam perspektif epistemologi Islam, tidak dikenal adanya dikhotomi antara ilmu agama dengan ilmu non-agama (umum). Ilmu adalah ilmu, Ia berasal dari sumber yang sama, kemudian berkembang sesuai dengan wilayah obyeknya masing-masing, baik menyangkut obyek material maupun obyek forma. Ia terus bersentuhan dengan fenomena alam, manusia dan apapun yang berada di luar keduanya. Melalui persentuhan itulah ilmu pengatahuan terus berkembang memasuki ruang sejarah dari waktu ke waktu.

Jika sains dan teknologi ini ditelusuri kembali ke masa-masa pertumbuhannya, hal itu tidak lepas dari sumbangsih para ilmuwan muslim. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa asal-usul sains modern atau revolusi ilmiah berasal dari peradaban Islam.Memang sebuah fakta, umat Islam adalah pionir sains modern. Jikalau mereka tidak berperang di antara sesama mereka, dan jika tentara kristen tidak mengusirnya dari Spanyol, dan jika orang-orang Mongol tidak menyerang dan merusak bagian-bagian dari negeri-negeri Islam pada abad ke-13, tentulah mereka akan juga mampu melahirkan seorang Descartes, seorang Gassendi, seorang Hume, seorang Copernicus, dan seorang Tycho Brahe, karena kita telah menemukan bibit-bibit filsafat mekanika, emperisisme, elemen-elemen utama dalam heliosentrisme dan instrumen-instrumen Tycho Brahe dalam karya-karya al-Ghazali, Ibn al-Shatir, para astronom pada observatorium margha dan karya-karya Takiyudin.

Peradaban Islam pernah memiliki khazanah ilmu yang sangat luas dan menghasilkan para ilmuwan yang begitu luar biasa.Ilmuwan-ilmuwan ini ternyata jika kita baca, mempunyai keahlian dalam berbagai bidang.Sebut saja Ibnu Sina.Dalam umurnya yang sangat muda, dia telah berhasil menguasai berbagai ilmu kedokteran.Magnum opusnya al-Qanun fi al-Thib menjadi sumber rujukan primer di berbagai universitas Barat.15

 Selain Ibnu Sina, al-Ghazali juga bisa dibilang ilmuwan yang representatif untuk kita sebut di sini. Dia teolog, filosof, dan sufi. Selain ia juga ahli fiqih terkenal sebagai orang yang menganjurkan ijtihad kepada orang yang mampu melakukan itu. Al-Mushtasfa adalah bukti keahliannya dalam bidang ushul fiqih.Tidak hanya itu, al-Ghazali juga ternyata mempunyai paradigma yang begitu modern.Dia pernah mempunyai proyek untuk menggabungkan, tidak mendikotomi, ilmu agama dengan ilmu umum.Baginya, kedua jenis ilmu tersebut sama-sama wajib dipelajari oleh umat Islam.

Selain para ilmuwan di atas, Ibnu Rusyd layak kita sebut di sini.Dia filosof ulung, teolog dan menguasai kedokteran.Bahkan dia juga bisa disebut sebagai faqih. Kapabalitasnya dalam bidang fiqih dibuktikan dengan karya  Bidayah al-Mujtahid. Filosof ini juga menjadi inspirasi gerakan-gerakan di Barat.Tidak sedikit idenya yang diadopsi oleh orang Barat sehingga bisa maju seperti sekarang.Ilmuwan lainnya seperti Fakhruddin al-Razi, selain seorang teolog, filosof, ahli tafsir, dia juga seorang yang menguasai kedokteran.Al-Khawarizmi, Matematikawan dan seorang ulama.Dan masih banyak lagi para ulama sekaligus ilmuwan yang dihasilkan dari Peradaban Islam.

INSTRUMEN DARI EPISTEMOLOGY

Dalam filsafat sains dan epistemologi , instrumentalisme adalah pandangan metodologis bahwa ide adalah instrumen yang berguna, dan bahwa nilai suatu ide didasarkan pada seberapa efektif ide tersebut dalam menjelaskan dan memprediksi fenomena 

Menurut para instrumentalis, teori ilmiah yang berhasil mengungkapkan tidak ada yang diketahui benar atau salah tentang objek, properti, atau proses alam yang tidak dapat diamati. Teori ilmiah hanyalah alat di mana manusia memprediksi pengamatan dalam domain alam tertentu dengan merumuskan hukum, yang menyatakan atau meringkas keteraturan, sementara teori itu sendiri tidak mengungkapkan aspek alam yang seharusnya tersembunyi yang entah bagaimana menjelaskan hukum-hukum ini. Instrumentalisme adalah perspektif yang awalnya diperkenalkan oleh Pierre Duhem pada tahun 1906.

Menolak ambisi realisme ilmiah untuk mengungkap kebenaran metafisik tentang alam, instrumentalisme biasanya dikategorikan sebagai antirealisme , meskipun kurangnya komitmen terhadap realisme teori ilmiah dapat disebut nonrealisme . Instrumentalisme hanya mengabaikan perdebatan mengenai apakah, misalnya, sebuah partikel yang dibicarakan dalam fisika partikel adalah entitas diskrit yang menikmati keberadaan individu, atau merupakan mode eksitasi suatu wilayah bidang, atau merupakan sesuatu yang lain sama sekali. Instrumentalisme berpendapat bahwa istilah teoretis hanya perlu berguna untuk memprediksi fenomena, hasil yang diamati

RELEVANSI EPISTEMOLOGY DENGAN ILMU POLITIK DAN ANTROPOLOGIS

Epistemology merupakan salah satu cabang filsafat yang mempelajari secara mendalam dan radikal asalmula pengetahuan, struktur, metode, dan validitas pengetahuan. Relevansi dalam ilmupolitik yaitu mempelajari hakikat manusia dalam masyarakat politik. Dalam mempelajari ilmu polotik diperlukan suatu ilmu pengetahuan, informasi, penalaran, maka disinilah peran epistemology. Pengetahuan didapat dari pengamatan. Didalam pengamatan indrawi tidak dapat ditetapkan apa yang subjektif dana apa yang objektif. Dikatakan bahwa sifat pengamatan adalah konkret seperti halnya ilmupolitik yang mempelajari sesuatu yang konkret artinya isi yang diamati adalah sesuatu yang benar-benar dapat diamati dan terjadi dalam diri manusia

Dasar epistemology ilmu politik dan antropologi diperlukan oleh para politisi untuk mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggung jawab. Sekalipun pengumpulan data di lapangan sebagian dapat dilakukan tenaga pemula, namun telah atas objek formal ilmu politik memerlukan pendekatan fenomenologis yang menjalin studi empiric dengan studikualitatif.

fenomenologis. Inti dasar dari epistemologys ini adalah agar dapat ditentukan bahwa dalam menjelaskan objek formalnya, telaah ilmupolotik dan antropologi tidak hanya mengembangkan ilmu terapan melain kan  menujuk kepada telaan teori dan ilmu politik sebagai ilmu otonom yang mempunyai objek formal sendiri atau problematika sendiri sekalipun tidak dapat hanya menggunakan pendekatan kuantitatif atau eksperimental.

Manusia adalah zoonpolitikon , makhluk social. Manusia adalah ”makhluk hyelemorfik” terdiri atas materi-materi dan bentuk-bentuk. Ernest Cassirer mengatakan manusia adalah animal simbolokum manusia adalah binatang yang mengenal symbol, misalnya adat istiadat, kepercayaan, dan Bahasa. Inilah kelebihan manusia jika dibandingkan dengan mekhluk lainnya. Itulah sebabnya manusia dapat mengembangkan dirinya jauh lebih hebat dari pada binatang yang hanya mengenal tanda dan bukan symbol.

Dari contoh tersebut filsafat adalah pendalaman lebih lanjut dari ilmu( hasil pengkajian filsafat selanjutnya menjadi dasar bagi eksistensi ilmu). Disinilah batas kemampuan akal manusia. Dengan akal nya ia tidak dapa menjawab pertanyaan yang lebih mendalam lagi mengenai manusia. Dengan akalnya, manusia hanya mampu member jawaban dalam batas-batas tertentu. Hal ini sesuai dengan pendapat Immanuel Kant dalam kritiknya terhadap rasio yang murni, yaitu manusia hanya dapat mengenal fenomena belaka, sedang bagaimana nomena-nyaia tidak tahu.

Maka mempelajari antropologi diperlukan suatu ilmu pengetahuan, informasi, penalaran, sehingg peran epistemology dibutuhkan. Karena pengetahuan didapat dar pengamatan akan tetapi pengamatan indrawi tidak dapat ditetapkan apa yang objektif dana pa yang subjektif. Dikatakan bahwa sifat pengamatan adalah konkret maka isi yang diamati haruslah benar-benar dapat diamati dan terja didalam kehidupan manusia.

KESIMPULAN YANG SAYA DAPATKAN ADALAH:

Masalah utama dari epistemologi adalah bagaimana cara memperoleh pengetahuan, Sebenarnya seseorang baru dapat dikatakan berpengetahuan apabila telah sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan epistemologi artinya pertanyaan epistemologi dapat menggambarkan manusia mencintai pengetahuan.

Akal adalah alat untuk berpikir dan berfilsafat yang bertujuan mencari kebenaran. Aktivitas akal merupakan daya yang luar biasa dalam mencari kebenaran yang merupakan objek pemikiran yang tidak pernah habis. Karena itu, akal tidak pernah puas terhadap sesuatu kebenaran yang diterimanya tanpa pembuktian secara rasional. Untuk memantapkan keimanan terhadap wahyu Allah serta untuk memberikan penjelasan terhadap mereka yang ragu, maka wahyu sangat membutuhkan peran serta akal untuk mengungkapkan kebenaran￾kebenaran yang dibawa oleh wahyu. Dengan kemampuan akal mengukapkan kebenaran yang dibawa wahyu secara rasional, maka kebenaran wahyu akan lebih mudah diterima oleh manusia. Dalam mengungkapkan kebenaran wahyu, akal tetap memiliki keterbatasan. Dalam ajaran Islam, penggunaan akal memang tidak diberi kebebasan mutlak, sebab dapat saja menyalahi rambu-rambu yang telah ditentukan oleh wahyu

Contoh epistimologi dalam dunia filsafat pendidikan, membahas tentang bagaimana suatu metode pembelajaran tersebut diterapkan dalam proses belajar. Epistimologi disebut sebagai suatu disiplin ilmu yang bersifat evaluatif, normatif, dan kritis. Evaluatif sendiri berguna untuk menilai sedangkan normatif menentukan norma kebenaran suatu pengetahuan dan kritis sendiri mempertanyakan hasil kegiatan dari penalaran manusia.

Komentar