SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DI DUNIA ISLAM

 Perkembangan ilmu pada masa islam klasik.

   Sejak awal islam, kajian-kajian dalam bidang teologi sudah berkembang, meskipun masih berbentuk embrio. Embrio inilah yang pada masa kemudian menemukan bentuknya yang lebih sistematis dalam kajian-kajian teologis dalam islam.

Dapat kita ketahui bahwasanya pada awal islam dipengaruhi hellenisme gan juga filsafat Yunani terhadap tradisi keilmuan, islam sudah sedemikian kental, sehingga pada saat selanjutnya pengaruh itu pun terus mewarnai perkembangan ilmu pada masa-masa berikutnya.

Perkembangan ilmu pada masa kejayaan islam.

   Transformasi ilmu dari dunia islam ke barat. Terjadinya transformasi kebudayaan dan khususnya ilmu dari dunia islam ke barat disebabkan paling tidak oleh dua alasan, pertama, kontak pribadi, terjadinya kontak pribadi ini juga disebabkan karena Byzantium secara geografis berdekatan dengan dunia islam. Alasan kedua, adanya kegiatan penerjemah. Tidak dipungkiri kebudayaan islamlah yang mendorong orang-orang latin melakukan penerjemah, setelah itu mengenal sebagai khazanah kebudayaan islam mereka lalu memperkaya pengetahuan mereka tentangnya.

Masa keruntuhan tradisi keilmuan dalam islam.

     Abad ke-18 dalam sejarah islam adalah abad yang paling menyedihkan bagi umat islam dan memperoleh catatan buruk bagi peradapan islam.salah satu penyebab utama kematian semangat ilmiah di kalangan umat islam adalah diterimanya paham Yunani mengenai realitas yang pada pokoknya bersifat statis, sementara jiwa islam adalah dinamis dan berkembang

Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Rasulallah Saw.

     Pada masa Rosulullah, ilmu pengetahuan lebih banyak berkembang dibidang ilmu-ilmu pokok tentang agama (ushuludin), dan ilmu akhlak (moral). Akan tetapi ilmu-ilmu lainnya tetap berkembang walaupun tidak sepesat ilmu agama dan akhlak. Saat itu pun mulai terjadi proses pengkajian ilmu yang lebih sistematis, diantaranya dasar-dasar ilmu tafsir yang dikembangkan oleh para sahabat Rosulullah.

Sebelum islam diturunkan, bangsa arab dikenal dengan sebutan kaum jahiliyah. Hal ini disebabkan karena bangsa arab sedikit sekali mengenal ilmu pengetahuan dan kepandaian yang lain. Keistimewaan mereka hanyalah ketinggian dalam bidang syair-syair jahili yang disebarkan secara hafalan (Bernard lewis, 1996:25 dalam Muh. Asroruddin A.J 2009 ). Dengan kenyataan itu, maka diutuslah nabi Muhammad SAW dengan tujuan untuk memperbaiki akhlak, baik akhlak untuk berhubungan dengan tuhan maupun dengan sesame manusia.

Demikian pula dengan masalah ilmu pengetahuan perhatian rosul sangat besar. Rosulullah SAW memberi contoh revolusioner bagaimana seharusnya mengembangkan ilmu. Diantara gerakan yang dilakukan Rosulullah SAW adalah dengan menggiatkan budaya membaca, yang merupakan pencanangan dan pemberantasan buta huruf, suatu tindakan awal yang membebaskan manusia dari ketidaktahuan . membaca merupakan pintu bagi pengembangan ilmu. Rosulullah SAW juga memerintahkan kepada para sahabatnya untuk menghafal ayat-ayat al-Qur’an. Dengan cara ini dapat menjaga kemurnian juga media memahami ayat-ayat al-Qur’an dan membuat tradisi menulis/mencatat wahyu pada kulit, tulang, pelapah kurma dan lain-lain. Dengan semangat itulah, maka terbangun jiwa umat islam untuik tidak hanya beriman tetapi juga berilmu, sehingga nantinya lahir sarjana-sarjana islam yang ahli dibidangnya. 

Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa khulafaurrasyidin.

      Masa ini sering disebut dengan masa klasik awal (650-690). Pada masa klasik awal ini, merupakan peletakan dasar-dasar peradapan islam yang berjalan selama 40 tahun.

Pada masa ini, perkembangan ilmu pengetahuan terpusat pada usaha untuk memahami Al-Qur’an dan Hadist Nabi, untuk memperdalam pengajaran akidah, akhlak, ibadah, mu’amalah dan kisah-kisah dalam Al-Qur’an. Akan tetapi yang perlu dicatat bahwa, pada masa ini telah ditanamkan budaya tulis dan baca. Dengan budaya baca tulis, maka lahirlah orang pandai dari para sahabat rosul, diantaranya Umar bin Khatab yang mempunyai keahlian dibidang hukum dan jenius pada ilmu pengetahuan, Ali bin Khatab yang mempunyai keahlian dibidang hukum dan tafsir.

Banyak ahli-ahli tafsir yang terkenal pada masa itu, diantaranya dari keempat Khalifah (Abu Bakar As-siddik, Umar bin Khatab, Ustman bin Affan, Ali bin Abu Thalib), Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay Ibnu Ka’ab, Zaid Ibnu Tsabit, Abu Musa Al-Asy’ari dan Abdullah bin Zubair.

Ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Umayyah.

      Kemajuan ilmu pengetahuan di masa dinasti umayyah sudah mulai dirasakan dan mencakup berbagai bidang ilmu, seperti : ilmu-ilmu agama, Bahasa, sejarah, geografi, filsafat, astronomi, matematika, dan fisika atau ilmu pengetahuan alam. Para ilmuan dalam berbagai disiplin ilmu yang hidup dimasa Dinasti Umayyah ini sebagian adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang kemudian masuk islam dan sebagian lagi adalah orang Arab. Mereka semua memulai karya-karyanya dalam Bahasa Arab. Berikut perkembangan ilmu pengetahuan pada masa dinasti Umayyah :

Ilmu-ilmu agama

Dengan banyaknya sahabat yang mengembara maka bermunculan pusat-pusat kajian islam seperti madrasah-madrasah di berbagai pelosok negeri , kajian itu bersumber pada Al-Qur’an, Hadist dan Fikih. Diantara ilmu-ilmu agama yang terpenting adalah ilmu Al-Qira’at ( ilmu seni membaca Al-Qur’an) yang dianggap sebagai dasar utama bagi perkembangan ilmu tafsir dimasa berikutnya.

Ilmu Bahasa

Meskipun Bahasa arab di masa pra-islam (jahiliyah) sebagian besar adalah ummi (tidak dapat membaca dan menulis), namun Bahasa mereka sangat fasih, Bahasa Arab merupakan Bahasa di mana Al-Qur’an diturunkan kepada rosulullah saw melalui malaikat Jibril as. Pada masa pra-islam sangat dipengaruhi perkembangan perubahan kehidupan intelektual, politik, dan agama. Perubahan itu tampak jelas dalam tujuan, pengertian dan cara pengungkapannya. Tujuan Bahasa arab pada masa jahiliyah merupakan gambaran kehidupan badui (pendalaman) yang membangkitkan permusuhan, setelah penaklukan yang berhasil, Bahasa arab mulai bercampur dengan Bahasa local yang sudah ada, di Syam Bahasa arab mulai bercampur dengan Bahasa romawi.

Ilmu sejarah

Munculnya ilmu sejarah ini dikarenakan adaya kajian tentang sirah nabawiyah atau perjalanan hidup nabi Muhammad saw, berita peperangan yang dialami beliau berserta sahabat, dan berita hijrahnya para sahabat dan Rosulullah saw baik yang ke habasyah maupun ke Yatsrib. 

Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah.

    Dinasti Abbasiyah yang berkuasa sekitar lima abad lebih, merupakan salah satu dinasti islam yang sangat peduli di dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban islam. Upaya pengembangan ini mendapat tanggapan yang sangat baik dari para ilmuwan. Sebab, pmerintah Dinasti Abbasiyah telah menyiapkan segalanya untuk kepentingan tersebut. Fasilitas yang diberikan diantaranya adalah pembangunan pusat-pusat riset dan terjemah, seperti baitul hikmah, majelis munadzarah, dan pusat studi lain seperti zawiyah, bangah, kattab, dan lain-lain. Bahkan perguruan tinggi  berpa madrasah nidzamiyah. Dari proses inilah lambat laun umat islam mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban islam yang menjadi bahan rujukan bagi ilmuwan modern. Adapun bidang-bidang ilmu pengetahuan yang dikembangkan diantaranya: 

Filsafat

  Proses penerjemahan yang dilakukan umat isla pada masa pemerintahan dinasti abbasiyah mengalami kemajuan yang cukup besar. Para penerjemah saat itu tidak hanya menerjemahkan ilmu pengetauan dan peradaban bangsa-bangsa Yunani, Romawi, Persia, India, Assyiria saja, juga mencoba mentransfernya ke dalam bentuk pemikiran. Proses ini disebut dengan istilah “Hellenisasi”. Diantara tokoh yang memberikan andil cukup penting di dalam perkembangan ilmu dan filsafat islam diantaranya: Al-Kindi, Abu-Nasr al-Faraby, Ibnu sina, Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail, Al-Ghazali, Ibnu Rusyd.

Ilmu kalam

Akulturasi budaya yang disebabkan oleh mengglobalnya islam sebagai agama peradaban, menimbulkan tantangan baru bagi para ulama. Kaum Mu’tazilah (rasionalis muslim) adalah pembela gigih terhadap serangan Yahudi, Nasrani dan Wasani, karena itu golongan Mu’tazilah memberi andil besar dalam menciptakan ilmu kalam. Diantar pelopor ilmu kalam terbesar yaitu: Wasbil bin Atha, Baqillani. Asyary, Ghazali, Sajastani, dan lain-lain.

Ilmu Kedokteran 

Ilmu kedokteran ini adalah ilmu yang sangat pesat saat dinasti abbasiyah.  Pada masa itu didirikan apotek terbesar yang pertama di dunia, yaitu tempat menjual obat. Disamping itu juga didirikan sekolah farmasi. Sekolah kedokteran juga dilengkapi dengan rumah sakit sehingga menjadi lembaga yang menggabungkan usaha penyembuhan dengan pengajaran obat-obatan, farmokologi, dan bidang yang terkait lainnya.

Ilmu Kimia

Ilmu kimia juga termasuk ilmu yang dikembangkan kaum muslim. Dalam bidang ini mereka memperkenalkan eksperimen obyektif, hal ini merupakan suatu perbaikan yang tegas dari cara spekulasi yang ragu-ragu dari Yunani.

Matematika

Diantara ilmu lain yang dikembangkan oleh dinasti abbasiyah terdapat juga matematika atau ilmu hisab. Ilmu ini berkembang karena kebutuhan dasar pemerintah untuk menentukan waktu yang tepat dalam setip pembangunan.

Sejarah

Dalam perkembangan awal, para ilmuwan tidak hanya menjadikan hadist berupa perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad Saw. Dalam menentukan suatu hukum, juga kronologis atau rangkaian peristiwa tertentu. Dari sinilah lahir karya besar yang ditulis oleh para sejarawan.

Ilmu Bumi 

Dalam tradisi islam ilmu bumi tidak dapat dipisahkan dengan astronomi. Ahli ilmu bumi pertama dalam sejarah islam adalah Hisyam al-kalbi, yag termasyhurpada abad ke-9 M. Khususnya dalam studinya mengenai kawasan Arab.

Astronomi

Tokoh Astronomi islam pertama adalah Muhammad al-Fazani. Ia mengoreksi tabel yang ada berdasarkan teks astronomi India shiddanta yang ditulis oleh Brahmanagupta. Kitab ini adalah rujukan pertama hingga masa Khalfah al-Makmun.




Kemajuan Ilmu Pengetahuan Islam di Dunia.

    Dalam perspektif sejarah, ilmu-ilmu keislaman mengalami pasang surut. Suatu ketika mengalami kejayaan dan disaat yang lain mengami kemunduran. Pada masa kejayaan atau keemasan, sejarah politik dunia islam biasanya dipetakan menjadi tiga periode, yaitu: periode klasik, periode pertengahan, periode modern. Dari ketiga periode tersebut yang dikenal sebagai masa kejayaan islam adalah periode klasik yang diantaranya ditandai dengan etos keilmuan yang sangat tinggi yang ditunjukan dengan pesatnya pekembangan ilmu pengetahuan di berbagai bidang kehidupan. Akselerasi perkembangan ilmu pengetahuan di dunia islam sangat tampak setelah masuknya gelombang hellenisme melalui gerakan penerjemah ilmu-ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab yang dipelopori khalifah Harn al-Rasyid dan mencapai puncaknya pada masa khalifah al-Makmun. Tidak lama kemudian muncullah di kalangan umat islam para filosof dan ilmuwan yang ahli dalam berbgai disiplin ilmu pengetahuan.  Contohnya dalam ilmu kedokteran Ibnu Sina, dalam filsafat al-Kindi, dalam bidang ilmu pasti dan ilmu pengetahuan alam muncul al-Khawarizmi. Perkembangan dalam ilmu hukum ditandai dengan adanya empat madzhab diantaranya: Abu Hanifah, Ibnu Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Hambal. Dalam bidang hadist muncul sejumlah ulama terkemuka yaitu: Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Abu Dawud, al-Tirmidzi, an-Nasa’i. Dalam bidang teoloi muncul ulama semacam: Abu al-Hudzali, al-Allaf, Abu al-Hasan, dan lain-lain. 

   Pada masa kemunduran yang sering disebut-sebut sebagai momentum kemunduran umat Islam bidang pemikiran dan pengembangan ilmu adalah kritik al-Ghazali melalui al-Falasifahnya terhadap para filosof yang dinilainya telah menyimpang jauh dari ajaran islam. Al-Ghazali sebenarnya bukan sosokyang anti filsafat, bahkan ia termasuk ke dalam deretan filosof muslim terkenal. Ia menulis “Tahafut al-Falasifah” (kekacauan para filosof) sebenarnya bertujuan untuk menghidupkan kembali kajian keagamaan yang menurutnya, telah terjadi banyak penyimpangan akibat ulah sebagian filosof khususnya al-Farabi dan Ibnu Sina yang berdampak pada semkain menjamurnya semangat pemikiran bebas yang membuat orang meninggalkan ibadah. Oleh karena itu dalam karyanya yang lain ia menulis karya momentum yang diberi judul “Ihya Ulum al-Din” (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama). Dan penyelesaian yang ditawarkan al-Ghazali menurut Nurcholish Madjid begitu hebatnya, sehingga memukau dunia intelektual islam dan membuatnya seolah-olah terbius.


Komentar