KEBENARAN ILMIAH
Pengertian Kebenaran Ilmiah
Dalam perkembangan pemikiran filsafat pembicaraan mengenai kebenaran sudah ada sejak masa Plato dan Aristoteles. Perbincangan tentang kebenaran ini diawali oleh kebenaran manusia sebagai makhluk yang berpikir. Dalam Ilmu Mantiq disebut bahwa: Al-Insanu Hayawanu Natiqun (Manusia itu adalah makhluk yang berpikir).Bila manusia adalah makhluk yang berpikir dan berpikir adalah bertanya, bertanya adalah mencari jawaban, maka mencari jawaban adalah mencari kebenaran. Jadi manusia adalah makhluk rasional yang mempergunakan otaknya untuk berpikir secara rasional, dan dari hasil pemikiran yang rasional itulah kebenaran bisa didapat. Karena itu pada dasarnya manusia adalah makhluk pencari kebenaran.
Kebenaran adalah satu nilai utama didalam kehidupan manusia. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusia atau martabat manusia selalu berusaha memeluk suatu kebenaran. Berbicara tentang kebenaran ilmiah, tidak bisa dipisahkan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri, sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Disamping itu, proses untuk mendapatkan haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah. Tentang kebenaran ini, plato pernah berkata : apakah kebenaran itu? lalu pada waktu yang tak bersamaan, bahkan jauh belakangan Bradley menjawab: “kebenaran itu adalah kenyataan” tetapi bukanlah kenyataan itu tidak selalu yang seharusnya terjadi. Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk ketidak benaran atau keburukan. Jadi ada dua pengertian kebenaran, yaitu kebenaran yang berarti nyata-nyata terjadi disatu pihak, dan kebenaran dalam arti lawan dari keburukan atau ketidak benaran.
Lalu, apa yang dimaksud dengan ilmiah? Dalam kamus dijelakan ilmiah berasal dari kata ilmu artinya pengetahuan. Namun, dalam kajian filsafat antara ilmu dan pengetahuan dibedakan. Pengetahuan bukan ilmu, tetapi ilmu merupakan akumulasi pengetahuan. Sedangkan yang dimaksud ilmiah adalah pengetahuan yang didasarkan atas terpenuhinya syarat-syarat ilmiah, terutama menyangkut teori yang menunjang dan sesuai dengan bukti. Kebenaran ilmiah merupakan kesesuaian antara pengetahuan dengan objek kesesuian ini didukung dengan syarat-syarat tertentu yang oleh jujun S.Sumantri disebut dengan metode-metode, juga didukung dengan teori yang menunjang dan sesuai dengan bukti. Kebenaran ilmiah divalidasi dengan bukti-bukti empiris yaitu hasil pengukuran objektif dilapangan. Sifat objektif berlaku umum dapat diulang melalui eksperimen, cenderung amoral sesuai apa adanya. bukan apa yang seharusnya yang merupakan ciri ilmu pengetahuan.
Kebenaran ilmiah adalah suatu pengetahuan yang jelas dan pasti kebenarannya menurut norma-norma keilmuan. Kebenaran ilmiah cenderung bersifat objektif, didalamnya terkandung sejumlah pengetahuan menurut sudut pandang yang berbeda-beda, tetapi saling bersesuaian. Kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Disamping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap- tahap metode ilmiah.
Teori Kebenaran
Secara tradisional dikenal dua teori kebenaran, yaitu: teori kebenaran koherensi, dan teori kebenaran korespondensi. Michael Williams (Muhajir, 1998:13) mengenalkan teori kebenaran, yaitu: kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, dan kebenaran pragmatik. Muhajir (ibid) menambahkannya dengan kebenaran paradigmatik, dan Bakhtiar (2004:121) mengemukakan bahwa agama juga sebagai teori kebenaran.
- Teori Kebenaran Koherensi
Koherensi berarti hubungan yang terjadi karena adanya gagasan (prinsip, relasi, aturan, konsep) yang sama. Secara singkat paham ini mengatakan bahwa suatu proposisi cenderung benar jika proposisi tersebut dalam keadaan saling berhubungan dengan proposisi-proposisi yang benar atau jika makna yang dikandunganya dalam keadaan saling berhubungan dengan pengalaman kita. Suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Teori ini banyak dianut atau berakar pada pola filsafat idealisme yaitu Idealisme Plato yang mendewakan dunia ide. Baginya (Plato) yang nyata itu adalah ide dan ide ini abadi. Jadi teori ini memberikan ukuran kebenaran pernyataan pada adanya hubungan antara pernyataan itu dengan pernyataan yang lain atau pengalaman sebelumnya yang diakui kebenarannya. Jika ada hubungan berarti benar, jika tidak berarti tdak benar. Kebenaran terletak pada hubungan antara pernyataan dan pengalaman. Semakin banyak hubungannya, semakin tinggi derajat kebenaran itu.
Berdasarkan teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Artinya pertimbangan adalah benar jika pertimbangan itu bersifat konsisten dengan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya, yaitu menurut logika. Sebagai contoh, kita beranggapan bahwa setiap tumbuhan pasti akan mati. Jika bunga adalah tumbuhan, maka pernyataan bahwa bunga akan mati merupakan pernyataan yang benar. Contoh lainnya bila kita menganggap bahwa “maksiat perbuatan yang dilarang oleh Allah” adalah suatu pernyataan yang benar. Maka pernyataan bahwa “mencuri perbuatan maksiat, maka mencuri dilarang oleh Allah” adalah benar pula, sebab pernyataan kedua konsisten dengan pernyataan yang pertama.
- Teori Kebenaran Korespondensi
Kebenaran dalam paham ini terletak pada kesesuaian hubungan antara pernyataan dengan obyek yang bersifat faktual. Paham ini banyak dianut oleh penganut realisme dan metarialisme dan berkembang pada abad ke-19 di bawah pengaruh Heggel, dan sangat menghargai pengamatan empirik serta memuji cara kerja aposteriori.
Kebenaran koresmondensi merupakan teori yang berpandangan bahwa sesuatu dikatakan benar apabila ada kesesuaian antara pernyataan tentang fakta dengan fakta itu sendiri. Kebenaran atau suatu keadaan dikatakan benar jika ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan fakta. Teori ini sering diasosiasikan dengan teori-teori empiris pengetahuan. Ujian kebenaran yang didasarkan atas teori korespondensi paling diterima secara luas oleh kelompok realis. Menurut teori ini, kebenaran adalah kesetiaan kepada realita obyektif. Kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan tentang fakta dan fakta itu sendiri, atau antara pertimbangan(judgement) dan situasi yang dijadikan pertimbangan itu,serta berusaha untuk melukiskannya, karena Kebenaran mempunyai hubungan erat dengan pernyataan atau pemberitaan yang kita lakukan tentang sesuatu.
Jadi secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi(berhubungan) dan sesuai dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut(susiasumantri, 1990:57). Misalnya Banjarmasin adalah Ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan (benar) – pernyataan dan kenyataan sesuai. Kalau Pontianak adalah ibu kota provinsi Kalimantan Selatan (salah) – pernyataan tidak sesuai dengan kenyataan, karena Pontianak bukan ibu kota provinsi Kalimantan Selatan. Contoh lainnya jika seseorang mengatakan “Matahari terbit dari Timur” maka pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan tersebut bersifat faktual atau sesuai dengan fakta yang ada bahwa Matahari terbit dari timur dan tenggelam diufuk barat. Ukuran dari teori ini bisa dikatakan benar apabila pernyataan sesuai dengan kenyataan.
- Teori Kebenaran Performatif
Teori ini menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritas tertentu. Misalnya mengenai penetapan 1 syawal. Sebagian muslim di indonesia mengikuti fatwa atau keputusan MUI. Sedangkan sebagian yang lain mengikuti fatwa ulama tertentu atau organisasi tertentu. Dalam fase hidupnya, manusia kadang kala harus mengikuti kebenaran performatif. Pemegang otoritas yang menjadi rujukan bisa pemerintah, pemimpin agama, pemimpin adat, dan pemimpin masyarakat. Kebenaran performatif dapat membawa kehidupan sosial yang rukun, kehidupan beragama yang tertib, adat yang stabil dan sebagainya.
Kebenaran Performatif yaitu sesuatu dikatakan benar apabila memang dapat diaktualkan dalam tindakan. Apa bila sesuatu yang tidak mungkin dapat dikerjakan, maka teori performatif menyatakan hal yang tidak benar (salah). Misalnya: Menyediakan komputer untuk proses pembelajaran di Daerah yang tidak tersedia tenaga listrik. Hal ini tidak benar (salah) karena komputer tersebut tidak dapat dioperasikan.
- Teori Kebenaran Pragmatik
Teori pragmatic dicetuskan oleh filsuf pragmatis dari Amerika Serikat Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yang berjudul “How to Make our Ideals Clear”. Teori ini kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika. Ahli-ahli filsafat ini di antaranya adalah William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Herbert Mead (1863-1931) dan C.I. Lewis (Suriasumantri, 1984:57). Bagi kaum pragmatis kebenaran adalah sama artinya dengan kegunaan. Ide, konsep, pengetahuan, atau hipotesis yang benar adalah ide yang berguna. Ide yang benar adalah ide yang paling mampu memungkinkan seseorang (berdasarkan ide itu) melakukan sesuatu secara paling berhasil dan tepat guna. Berhasil dan berguna adalah kriteria utama untuk menentukan apakah suatu ide itu benar atau tidak. Bagi kaum pragmatis jika ide, pengetahuan atau konsep tidak ada manfaatnya maka ide tersebut merupakan ide yang tidak benar.
Teori pragmatisme (the pragmatic theory of truth) menganggap suatu pernyataan, teori atau dalil itu memliki kebenaran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupan manusia. Salah satu contoh teori ini dalam matematika adalah pada trigonometri pengukuran sudut berguna untuk menentukan arah, kemiringan bidang atau mendesain dan membuat suatu bangun ruang. Kaum pragmatis menggunakan kriteria kebenarannya dengan kegunaan (utility), dapat dikerjakan (workability) dan akibat yang memuaskan (satisfactor consequence). Oleh karena itu, tidak ada kebenaran yang mutlak/ tetap, kebenarannya tergantung pada manfaat dan akibatnya. Akibat/hasil yang memuaskan bagi kaum pragmatis adalah : sesuai dengan keinginan dan tujuan, sesuai dengan teruji dengan suatu eksperimen, ikut membantu dan mendorong perjuangan untuk tetap eksis (ada).
Misalnya, seiring perkembangan zaman, teknologi pun semakin canggih. Para ilmuan menemukan teknologi-teknologi baru untuk mempermudah pekerjaan manusia, telepon genggam berupa smartphone contohnya. Penemuan dan pengaplikasian smartphone tersebut dikatakan benar karena dapat berguna untuk mempermudahkan pekerjaan manusia. Kebenaran pragmatis, sesuatu dikatakan benar jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu bersifat fungsional. Artinya: mempunyai kegunaan praktis atau mendatangkan manfaat (utility) bagi kehidupan manusia. Sebaliknya dikatakan salah jika pernyataan itu tidak mendatangkan manfaat.
Sifat Dan Kriteria Kebenaran Ilmiah
Kebenaran ilmiah menurut konrad kebung paling tidak memilik tiga yaitu: struktur kebenaran ilmiah bersifat rasional-logis, isi empiris, dan sifat pragmatis.
- Struktur yang rasional-logis
Kebenaran dapat dicapai berdasarkan kesimpulan logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena kebenaran ilmiah bersifat rasional maka semua orang yang rasional (yaitu yang dapat menggunakan akal budinya secara baik). Dapat memahami kebenaran ilmiah. Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai kebenaran universal.
Sifat rasional (rationality) harus dibedakan dengan sifat masuk akal (reasonable). Sifat rasional terutama berlaku untuk kebenaran ilmiah sedangkan masuk akal biasanya berlaku bagi kebenaran tertentu diluar lingkup pengetahuan. Contohnya: tindakan marah dan menangis atau semacamnya, dapat dikatakan masuk akal sekalipun tindakan tersebut mungkin tidak rasional.
- Isi empiris
Kebenaran ilmiah perlu diuji kenyataannya yang ada. Bahkan sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah. Berkaitan dengan kenyataan empiris di alam ini. Spekulasi tetap ada namun sampai tingkat tertentu spekulasi itu bisa dibayangkan sebagai nyata atau tidak karena sekalipun sesuatu pernyataan dianggap benar secara logis, perlu dicek apakah pernyataan tersebut juga benar secara empiris.
- Isi pragmatisme (dapat diterapkan).
Sifat ini berusaha menggabungkan kedua sifat kebenaran sebelumnya (logis dan empiris). Maksudnya jika suatu pernyataan “benar” dinyatakan “benar” secara logis dan empiris maka pernyataan tersebut juga harus berguna bagi kehidupan manusia, berguna berarti dapat untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam hidupnya.
Artinya kebenaran berkaitan erat dengan kualitas, sifat atau karakteristik, hubungan, dan nilai kebenaran itu sendiri. Adapun penjelasan Hamami berkaitan dengan Kriteria kebenaran Ilmiah adalah sebagai berikut:
Pertama, kebenaran berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Artinya kebenaran itu dipengaruhi oleh jenis pengetahuan yang dimiliki oleh subjek. Jika subjek memiliki pengetahuan biasa ataucommon sense knowledge, maka pengetahuan seperti ini akan menghasilkan kebenaran yang bersifat subjektif, sangat tergantung pada subjek yang melihat. Selanjutnya jika subjek memiliki pengetahuan ilmiah yaitu pengetahuan yang sudah memiliki objek yang khas atau spesifik dengan pendekatan metodologis yang khas pula, yaitu adanya kesepakatan diantara ahli yang ada. Maka kebenaran dalam konteks ini bersifat relatif, yaitu akan selalu mendapatkan revisi atau perubahan jika ditemukan kebanaran yang baru pada penelitian-penelitian yang akhir dan mendapat persetujuan (agreement) dari konvensi ilmuan sejenis. Kemudian jenis pengetahuan pengetahuan filsafati, yaitu melalui pendekatan filsafati, yang sifatnya mendasar dan menyeluruh dengan model pemikiran yang analitis, kritis, dan spekulatif. Kebenaran pengetahuan ini bersifat absolut-intersubjektif. Artinya kebenaran ini merupakan pendapat yang selalu melekat pada pandangan seorang filsafat itu dan selalu mendapat pembenaran dari filsuf kemudian yang menggunakan metodologi pemikiran sama. Jenis pengetahuan yang terakhir adalah kebenaran pengetahuan yang terkandung dalam agama, yang memiliki sifat dogmatis, artinya kebenaran dalam agama sudah tertentu dan sesuai ajaran agama tertentu, kemudian di yakini sesuai dengan keyakinan subjek untuk memahaminya. Kebenaran makna kandungan kitab suci berkembang secara dinamis sesuai dengan perkembangan waktu, akan tetapi kandungan maksud ayat kitab suci tidak dapat dirubah dan sifatnya absolut.
Kedua, kebanaran dikaitkan dengan sifat atau karakteristik tentang cara atau metode apa yang digunakan subjek dalam membangun pengetahuannya itu. Apakah ia membangun pengetahuannya dengan penginderaan atau sense experience, akal pikir, ratio, intuisi, atau keyakinan. Dimana cara atau metode yang digunakan subjek akan mempengaruhi karakteristik kebenaran, sehingga harus dibuktikan juga dengan metode atau cara yang sama. Misalnya, jika subjek memperoleh kebenaran melalui sense experiense, maka harus dibuktikan juga dengan sense experience, bukan dengan cara yang berbeda, begitu pula dengan yang lainnya.
Ketiga, nilai kebenaran dikaitkan dengan ketergantungan terjadinya pengetahuan itu. Artinya kebenaran ini berkaitan dengan relasi antara subjek dan objek. Manakala subjek memiliki dominasi yang tinggi dalam membangun suatu kebenaran. Maka kebenaran itu akan bersifat subjektif, artinya nilai kebenaran yang terkandung di dalam pengetahuan itu sangat bergantung pada subjek yang memiliki pengetahuan itu. Atau sebaliknya, jika objek lebih berperan maka sifat pengetahuannya objektif, seperti ilmu alam.
Kebenaran Ilmiah Ditinjau Dari Aspek Subjektif Dan Objektif
Subjektivitas dan Objektivitas Merupakan dua hal yang berkaitan dengan apa-apa yang ada di dalam atau diluar fikiran manusia. Subjektivitas mrupakan bukti atau fakta yang ada dalam fikiran manusia sebagai persepsi, keyakinan juga perasaan. Sedangkan Objektivitas merupakan sesuatu yang bisa diukur yang ada di luar dan persepsi manusia. Kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan itu, artinya bagaimana relasi antara subjek dan objek, manakah yang lebih dominan untuk membangun pengetahuan itu. Jika subjek yang lebih berperan, maka jenis pengetahuan itu mengandung nilai kebenaran yang sifatnya subjektif, artinya nilai kebenaran dari pengetahuan yang dikandungannya itu amat tergantung pada subjek yang memiliki pengetahuan itu. Atau, jika; jika objek amat berperan, maka sifatnya objektif, seperti pengetahuan tentang alam atau ilmu-ilmu alam.
Ilmu merupakan bagian dari ilmu pengetahuan, tidak bebas dari nilai kebenaran,
kegunaan dan manfaatnya sesuai dengan visi dan orientasinya, cepat atau lambat ilmu akan menyentuh nilai kemanusiaan melalui obyeknya, maka aktualisasi dan aplikasi filsafat ilmu mutlak dibutuhkan dalam upaya mencari dan menentukan arti dan makna kebenaran ilmiah. Misalnya, dalam islam dinyatakan bahwa diutusnya Muhammad Rasulullah semata-mata menyempurnakan akhlak mulia, begitu juga limu yang bersumber dari manusia menurut watak alami/fithrahnya, sarat dengan nilai-nilai moral. Disinilah letak kebenaran yang bersifat koherensif dan idealis. Dengan demikian ilmu dalam aliran ini harus yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana pandangan Phenomenologi.Kebenaran dalam aliran Positivisme dan Utilitarianisme terwujud jika ilmu memberi justifikasi terhadap setiap produk ilmu dari lembaga yang berwenang dan tidak terikat/terlepas dari nilai moral. Kebenaran disini adalah kebenaran korespondensif dan pragmatis sebagai ciri dari positivisme dan utilitarianisme yang bersifat obyektif dan faktual. Dalam tahap ini kebenaran ilmiah dalam aliran ilmu ini apabila bersifat konkrit,akurat,abstrak, dan manfaat yang mengantarkan manusia menuju dan meraih kemajuan dalamidupnya. Akibatnya, segala hal yang bersifat inmateriil seperti moral bahkan agama, tidak
menjadi landasan kebenaran dan kemanfaatan. Disinilah urgensi filsafat ilmu mutlak diperlukan sebagai landasan agar tidak mengarah pada hedonistik yang merusak tatanan hidup dan nilai kemanusiaan. Kebenaran ilmiah dalam ilmu mempunyai arti dan makna bahwa ilmu banyak dipengaruhi dan ditentukan oleh policy penguasa, untuk itu seharusnya policy penguasa mampu melindungi semua kepentingan masyarakat dan berusaha memuaskan atau menserasikan konflik kepentingan yang tumpang tindih sehingga terjamin kehidupan manusia dan kehadiran ilmu menjadi sebuah kedamaian.
Peran Dan Fungsi Filsafat Ilmu Dalam Mencari Arti Dan Makna Kebenaran Ilmiah
Filsafat ilmu sebagaimana dijelaskan dimuka adalah sebagai refleksi yang tidak pernah mengalami titik henti dalam meneliti hakekat ilmu untuk menuju pada sasarannya, yaitu apa yang disebut sebagai kenyataan atau kebenaran. Sasaran yang tidak pernah akan habis dipikir dan tidak akan pernah selesai diterangkan, sedemikian rupa sehingga menjadi sangat penting kehadirannya dalam mencari kenyataan dan kebenaran dalam ilmu, dan itu memang tugasnya. Ilmu merupakan bagian dari ilmu pengetahuan, tidak bebas dari nilai kebenaran, kegunaan dan manfaatnya sesuai dengan visi dan orientasinya, cepat atau lambat ilmu akan menyentuh nilai kemanusiaan melalui objeknya, maka aktualisasi dan aplikasi filsafat ilmu mutlak dibutuhkan dalam upaya mencari dan menentukan arti dan makna kebenaran ilmiah. Misalnya, dalam islam dinyatakan bahwa diutusnya Muhammad Rasulullah semata-mata menyempurnakan akhlak mulia, begitu juga ilmu yang bersumber dari manusia menurut watak alami atau fithrahnya, sarat dengan nilai-nilai moral. Disinilah letak kebenaran yang bersifat koherensif dan idealis. Dengan demikian, ilmu dalam aliran ini harus yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana pandangan Phenomenologi. Kebenaran dalam aliran Positivisme dan Utilitarianisme terwujud jika ilmu memberi justifikasi terhadap setiap produk ilmu dari lembaga yang berwenang dan tidak terikat/terlepas dari nilai moral. Kebenaran disini adalah kebenaran korespondensif dan pragmatis sebagai ciri dari positivisme dan utilitarianisme yang bersifat obyektif dan faktual. Dalam tahap ini kebenaran ilmiah dalam aliran ilmu ini apabila bersifat konkrit, akurat, abstrak, dan manfaat yang mengantarkan manusia menuju dan meraih kemajuan dalam hidupnya. Akibatnya, segala hal yang bersifat inmateriil seperti moral bahkan agama, tidak menjadi landasan kebenaran dan kemanfaatan. Disinilah urgensi filsafat ilmu mutlak diperlukan sebagai landasan agar tidak mengarah pada hedonistik yang merusak tatanan hidup dan nilai kemanusiaan. Kebenaran ilmiah dalam ilmu mempunyai arti dan makna bahwa ilmu banyak dipengaruhi dan ditentukan oleh policy penguasa, untuk itu seharusnya polisi penguasa mampu melindungi semua kepentingan masyarakat dan berusaha memuaskan atau menserasikan konflik kepentingan yang tumpang tindih sehingga terjamin kehidupan manusia dan kehadiran ilmu menjadi sebuah kedamaian.[7]
Komentar
Posting Komentar